Gara-gara Nembak Perempuan

Beberapa waktu lalu saya mengatakan perasaan kepada seorang perempuan. Sebuah langkah yang sebenarnya tidak saya duga. Butuh waktu meyakinkan diri. Ketakutan dan kekhawatiran membayang-bayangi pikiran setiap kali ingin mengungkapkan. Ada ide perasaan ini salah dan tidak seharusnya tumbuh. Ada konsep dalam pikiran saya menolak perasaan cinta kepada wanita. Konsep terkait pengalaman-pengalaman dari masih anak-anak hingga dewasa.

Ketika banyak hal yang saya senangi secara berangsur tidak menarik lagi dilakukan atau dialami. Termasuk perempuan, daya tariknya tidak sehebat saat saya masih kuliah. Mungkin ada hubungannya dengan kejadian pencetus beberapa tahun lalu. Kekacauan multidimensional yang sulit saya handle. Kegagalan yang tidak mudah diterima sebagai bagian hidup. Terbawa sifat kekanak-kanakan yang belum lama saya ketahui bernama The Insecure Child.

Mengatasi The Insecure Child pada awalnya seperti melawan diri sendiri. Menulis di sini juga saya sedang melawan The Insecure Child. Sebab saya memiliki ketakutan bicara secara verbal maupun tekstual. Tidak enak rasanya terus mendengar suara-suara untuk melakukan A. Tetapi kemudian suara-suara itu berganti membisikkan prasangka hal buruk jika melakukan A. Pertentangan dalam batin seperti itu terus terjadi. Menimbulkan stres tersendiri.

Hingga saya tidak bisa membedakan mana suara yang sebaiknya diikuti mana yang harus dieliminasi. Akhirnya do nothing, karena melakukan apa saja akibat buruknya (seolah) pasti. Pikiran pesimis terus berkembang dan mengubah diri saya jadi orang skeptis, sulit percaya. Jadi jika ada beberapa motivator bersemangat dan berapi-api, maka ada beberapa orang seperti saya yang berpikir semua hal di dunia ini tidak ada artinya lagi.

Saat saya berusaha kembali, berjuang lagi, memulai sesuatu, perasaan dan pikiran automatically become chaos. Seperti ‘nembak’ saya merasa bagai berdiri di tepian kolam penuh ikan hiu ganas. Jantung berdegup kencang, keringat bercucuran, perut mulas, kaki serasa dingin, lalu bersin-bersin. Padahal itu hanya lewat chat WA. Yes. CHAT WA! Kalau ketemu langsung saya pasti langsung lari. Seperti waktu tanpa sengaja ketemu Nacita beberapa bulan lalu.

Masalah hilang ketertarikan terhadap sesuatu yang disukai ini ternyata tidak hanya menurunkan semangat, tapi juga meningkatkan ketakutan dan kecemasan. Tantangan tidak membuat saya bergairah, malah langsung menyerah. Kesulitan tidak membuat saya terpacu untuk mencari jalan keluar, malah mencari-cari cara menghindarinya. Antusiasme terbunuh, pegangan hidup berganti ketakutan dan penderitaan. Akhirnya hidup saya terasa membosankan, monoton, dan meaningless.

Kesulitan memang ada baik dari dalam diri sendiri maupun keluarga. Saya sulit berkomunikasi dengan keluarga lantaran ketakutan dan kekhawatiran sendiri. Pun keluarga juga tidak tahu bagaimana mendekati saya yang keliru sedikit diambil hati. Melihat sejarah keluarga sebenarnya kondisi tersebut bukan lagi hal aneh buat saya. Namun, saya juga tidak bisa mengurai kekusutan dalam hubungan kekerabatan itu. Akhirnya kesal sendiri dan mencari jalan pelampiasan lain untuk mengutarakan isi hati.

Tidak bisa dibilang benar memang cara saya meng-expose masalah internal keluarga. Namun, tetap saja saya melakukannya bukan tanpa pertimbangan. Mungkin pertimbangan-pertimbangan saya belum benar-benar dimengerti keluarga, seperti halnya pertimbangan-pertimbangan keluarga pada banyak kejadian belum benar-benar saya pahami. Bukan hanya butuh saling memaafkan namun juga saling mengerti. Dan itu sulit karena waktu bertemu yang sangat sedikit.

Itu pun digunakan untuk berbagi kesenangan daripada berbagi beban.

Saat berpikir untuk menikah segala kondisi yang ada di depan mata menghantui. Kondisi yang sepertinya sulit diubah karena menyangkut keinginan banyak pihak. Keluarga begitu besar pengaruhnya buat saya karena hanya itu yang saya punya. Perbedaan pemikiran, pola hidup, latar belakang, juga pengalaman melahirkan jarak antara saya dengan keluarga besar. Jarak itu lambat laun makin lebar seiring makin banyak yang harus diurus oleh masing-masing orang di dalamnya.

Saya merasa egois jika bersikap hanya mementingkan urusan sendiri. Mulai SMA juga Bulik-bulik sudah banyak menegur saya agar tidak main terus. Waktu kuliah saya ditegur agar mengurangi kegiatan di kampus dan menyediakan waktu di rumah. Pertimbangan mereka jelas karena di rumah saya laki-laki sendiri dan yang lain sudah sepuh. Namun mereka mungkin belum pernah mendengar pertimbangan saya mengapa lebih sering di luar daripada di rumah.

Tanpa dipertimbangkan juga sebenarnya naluri lelaki ‘bertempur’ di luar rumah. Selain saya tidak betah karena hawa tegang yang menyelimuti suasana keseharian di rumah. Jika saja mereka tahu keadaan riil di rumah mungkin saya tidak akan mendapat cap ‘anak yang tidak menganggap ibunya sendiri’ dan ‘cucu yang tidak tahu berterimakasih’. Mereka tidak merasakan sendiri hidup seatap dengan Ibu yang kejiwaannya terguncang dan Simbah Putri yang sepuh rentan terhadap stres atau tekanan.

Keduanya sudah dalam masa menikmati hari tua. Tidak ada yang keduanya kejar lagi. Asalkan keluarga sejahtera, perut kenyang dan memenuhi kebutuhan lain sudah cukup. Masalah tidak akurnya Ibu dan Simbah sepertinya sudah jadi pemakluman. Mengubah suasana di rumah agar lebih ramah kasih sayang pun sulit saya wujudkan. Harapan keluarga besar berbeda dengan saya. Mereka berharap rumah besar itu lebih bersih dan tertata. Sementara saya berharap Ibu dan Simbah saling mengerti satu sama lain.

Entah cerita di atas termasuk menjelek-jelekkan atau tidak. Toh saya saat ini masih mendapatkan uang dari Simbah. Ibu masih dibelikan jajanan dan sayuran setiap hari oleh Simbah. Lauk saya di rumah setiap hari dimasak oleh Simbah. Ibu juga mengisi teko air saya setiap pagi. Meskipun saya kadang kelewatan dalam bicara dan kasar, keduanya masih memaafkan dan memaklumi. Satu-satunya cara yang saya tahu untuk membalas kebaikan mereka, adalah bersungguh-sungguh untuk apa yang saya inginkan.

Aktif di kampus, jualan, menjalin pertemanan sebanyak-banyaknya, mencari guru-guru yang baik adalah upaya-upaya saya saat kuliah. Upaya yang disebut ‘dolan’ oleh beberapa orang di keluarga. Ya memang ada mainnya seperti touring ke pantai, survey lokasi outbond, mengunjungi komunitas-komunitas, wedangan, dan sebagainya. Cuma yang saya sesalkan seolah keluarga melihat kegiatan-kegiatan itu untuk senang-senang saja. Kemudian saya diingatkan agar lebih memperhatikan kondisi rumah.

Tentu maksudnya tentang kebersihan dan keindahan rumah yang kian hari kian pudar.

Jika pembaca berada di antara dua lingkungan A dan B. Lingkungan A bertahun-tahun dijalani, sudah diusahakan ada perbaikan namun tidak signifikan, dan mentok karena sumber daya manusianya menurun. Berbeda dengan lingkungan B di mana di situ masih banyak kesempatan, banyak sesuatu yang baru, kita bisa berkarya untuk mengubah banyak hal jadi lebih baik. Buat saya A adalah lingkungan keluarga dan B lingkungan pertemanan. Mana dari A dan B yang akan lebih sering pembaca datangi?

Tentu jawaban yang muncul adalah keduanya karena itu pilihan. Masing-masing kita punya pilihan hidup yang berbeda-beda. Tidak setiap pilihan kita menghasilkan atau membawa pada kondisi yang diharapkan. Kita yang paling tahu landasan dalam memilih sikap pribadi. Orang lain hanya melihat dan mungkin mereka tidak bersepakat. Itulah dinamika hidup bergaul dengan sesama manusia. Jadi melalui catatan ini –semoga keluarga membaca—saya berharap keluarga tidak lagi berpikir buruk tentang sikap-sikap saya.

Dan kenapa catatan tentang nembak perempuan ini jadi ngomongin keluarga. Saya pikir ketakutan dan kekhawatiran untuk berpasangan pada setiap orang ada kaitannya dengan keluarga. Sebab bagaimana pun keluarga adalah background yang secara halus membentuk diri kita sekarang. Macam-macam background itu berbeda-beda untuk setiap orang. Mungkin bagi yang background keluarganya baik, harmonis, dan akrab tidak akan memikirkannya terlalu serius.

Beda dengan yang keluarganya memiliki sejarah konflik dan trauma batin.

Jadi dalam pikiran saya, menyukai seorang perempuan bertabrakan dengan kondisi keluarga. Ketika kita coba memilih seorang pendamping hidup itulah saat kita benar-benar bercermin. Catatan ini sedikit refleksi atau cerminan dari apa yang saya alami, tentang merukunkan kondisi keluarga dan kebutuhan berpasangan. Coba memahami apa yang mungkin terlewat dan terlupa. Sebab manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal. Beda nasib, beda kesempatan, beda kesulitan, beda kemudahan.

Ada baiknya kita tidak saling meremehkan.

 

Sekretariat SPMB UNS, 20 Agustus 2018

Ilustrasi: Film One Day (2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s